Raden Ayu
Tan Peng Nio

“Mulan van Java”

Otobiografi Tentatif — antara sejarah dan legenda

Pahlawan Perempuan dari Kebumen — Hari Pahlawan Nasional 2025
Raden Ayu Tan Peng Nio

Pendahuluan

Berikut adalah otobiografi tentatif mengenai Raden Ayu Tan Peng Nio — “tentatif” karena banyak bagian kisahnya yang berada di wilayah legenda/sejarah lisan, bukan dokumen yang sepenuhnya terverifikasi. (Jadi kita berjalan di antara fakta dan “kemungkinan kisah” — seperti detektif sejarah.)

Latar Belakang & Masa Kecil

Tan Peng Nio dilaporkan sebagai keturunan Tionghoa-Indonesia yang kemudian menetap di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Kebumen. Menurut sejumlah sumber, ia adalah putri dari seorang “Jenderal” Tiongkok bernama Tan Wan Swee yang diduga melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Dinasti Qing (pemerintah Tiongkok era Kaisar Qianlong).

Nantinya, Tan Wan Swee mempercayakan putrinya (Tan Peng Nio) kepada seseorang bernama Lia Beeng Goe — ahli pembuat peti mati sekaligus praktisi bela-diri — untuk dibawa ke luar Tiongkok karena kondisi yang memaksa. Menurut kisah yang beredar, Tan Peng Nio dan Lia Beeng Goe melakukan pelarian ke Singapura dan kemudian ke Sunda Kelapa (kini Jakarta).

Perjuangan & Keterlibatan Militer

Pada pertengahan abad ke-18, terjadi peristiwa penting dalam sejarah kolonial Indonesia: huru-hara yang dikenal sebagai Geger Pecinan (1740) di Batavia yang mengakibatkan pembantaian terhadap etnis Tionghoa di bawah tangan VOC.

Dalam konteks perpindahan ke Jawa, Tan Peng Nio konon tiba di wilayah Kebumen dan bergabung dalam pasukan bentukan lokal. Beberapa versi menyebut bahwa ia menyamar sebagai prajurit laki-laki agar bisa ikut bertempur.

Salah satu unit yang disebut-sebut adalah “200 pasukan” yang dikirim untuk membantu pasukan Raden Mas Garendi (juga dikenal sebagai “Pangeran Garendi”) dalam konflik melawan Belanda. Setelah berbagai konflik, ada laporan bahwa setelah perang berakhir ia memilih menetap di Kebumen.

Pernikahan & Kehidupan Setelah Perang

Tan Peng Nio kemudian menikah dengan seorang bangsawan Jawa, K.R.A.T. Kolopaking III (nama lengkap: Sulaiman Kertowongso) yang menjabat sebagai penguasa Kadipaten Panjer (Kebumen). Dari pernikahan itu lahirlah dua orang anak:

Karena statusnya sebagai istri bangsawan dan kontribusi dalam perjuangan, Tan Peng Nio mendapat gelar kebangsawanan Raden Ayu.

Akhir Hayat & Warisan

Tan Peng Nio wafat di Kebumen dan dimakamkan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. Makamnya — dengan gaya arsitektur Tionghoa (atap lengkung, empat pilar) — berdiri di tengah hamparan sawah, dan hingga kini menjadi objek kunjungan karena keunikan dan kisah historisnya.

Namun, ada catatan penting bahwa foto yang beredar di internet yang diklaim sebagai Tan Peng Nio ternyata bukan dirinya (teknologi kamera belum ada di masanya). Selain itu, sebagian sejarahnya masih lemah dokumentasi — misalnya nama “Tan Wan Swee” dalam catatan pemberontakan Qing tidak ditemukan dalam arsip Tiongkok yang umum.

Anak cosplay sebagai Tan Peng Nio

Cosplay Raden Ayu Tan Peng Nio oleh Arunika Almahyra (Una) kelas KB2 — mengenang kisah keberanian dan perpaduan budaya.